​PALU – Perwakilan Mahasiswa (Untad), Muhammad , berhasil menyabet Harapan 3 pada cabang dalam ajang Pekan Seni Mahasiswa Nasional () XVIII 2026 yang berlangsung di Universitas Jember, Jawa Timur, 7–11 September 2026. Kendati berhasil membawa pulang gelar juara tingkat nasional, Mahasiswa yang akrab disapa Aat itu memberikan sejumlah catatan evaluasi terkait dukungan dan porsi dari pihak birokrasi kampus selama proses persiapan.

​Aat, yang tampil membawakan lakon monolog berjudul Aeng/Alimin karya di bawah arahan sutradara Ipin Cevin, mengungkapkan bahwa persiapan kontingen menghadapi ajang dua tahunan tersebut diwarnai berbagai keterbatasan teknis.

​Salah satu hal yang ia soroti adalah kebijakan efisiensi anggaran dari birokrasi kampus yang berimbas pada pembatasan jumlah personel, sehingga universitas hanya membiayai keberangkatan aktor tunggal. Padahal, pertunjukan monolog tetap memerlukan tim teknis di belakang panggung untuk mengurus penataan panggung, tata cahaya, tata rias, kostum, hingga tata musik.

​”Seni monolog itu bentuk pertunjukan yang tetap membutuhkan kerja tim teknis di belakang panggung. Karena pembatasan anggaran keberangkatan dari kampus, kami akhirnya mengusahakan dana mandiri dengan menggelar pementasan keliling di beberapa fakultas agar tim produksi bisa tetap berangkat mendampingi,” beber Aat kepada wartawan jendelasulawesi.id, Senin (5/10/2026).

​Selain masalah akomodasi tim produksi, Aat menyoroti durasi pemusatan latihan resmi dari kampus yang dinilai cukup singkat, yakni hanya sekitar 10 hari. Hal tersebut dinilai sangat terbatas jika dibandingkan dengan kontingen dari provinsi lain yang mendapatkan pemusatan latihan terpusat hingga tiga bulan dengan pembiayaan utuh.

​”Kita tentu menginginkan pencapaian target yang maksimal, namun idealnya hal itu diimbangi dengan masa persiapan dan fasilitasi yang memadai. Latihan 10 hari dirasa kurang ideal untuk bersaing secara maksimal di tingkat nasional,” katanya.

​Menatap perhelatan selanjutnya, Aat berharap birokrasi kampus, pihak terkait, hingga pemerintah setempat dapat memberikan perhatian lebih utuh terhadap pembinaan prestasi seni mahasiswa, mulai dari pembenahan mekanisme seleksi hingga penyediaan fasilitas latihan dan anggaran pendampingan.

​Harapan ini dinilai penting mengingat digadang-gadang masuk dalam daftar calon tuan rumah PEKSIMINAS 2028 mendatang bersama Lampung dan Bengkulu.

​”Apabila Kota Palu nantinya terpilih menjadi tuan rumah PEKSIMINAS 2028, kami berharap persiapannya dilakukan secara matang sejak awal. Pihak kampus perlu melibatkan unit kegiatan mahasiswa (UKM) seni dan pekerja seni kampus secara aktif agar ekosistem kesenian mahasiswa di daerah dapat tumbuh berkelanjutan,” tambahnya.

​Adapun PEKSIMINAS XVIII 2026 diselenggarakan atas dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek), Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Asosiasi Dosen dan Seni Mahasiswa Indonesia (ADSMI), BPSMI Jawa Timur, serta Universitas Jember sebagai tuan rumah.

​Ajang ini diikuti oleh 526 delegasi dari BPSMI se-Indonesia yang berlaga pada 15 tangkai lomba, meliputi seni suara, sastra, seni pertunjukan, seni rupa, hingga fotografi. Selain capaian Syafaat di cabang Monolog, kontingen Untad juga mengamankan prestasi pada cabang Seni Lukis melalui mahasiswi Sersilia Yesi Junia yang berhasil meraih Juara 3. BIM