DONGGALA — Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Donggala, Ansyar Sutiadi, secara terbuka mengakui adanya hubungan kekeluargaan dengan Bupati Donggala.
Ansyar menyebut, kepercayaan yang diberikan kepadanya justru menempatkan dirinya pada posisi yang rawan disorot publik. Karena itu, ia merasa harus bekerja lebih keras dibanding pejabat lain untuk membuktikan bahwa penunjukan dirinya bukan didasarkan pada hubungan keluarga semata.
“Harapan pimpinan itu besar. Ini amanah yang harus dikembangkan. Kalau saya gagal, itu bukan hanya soal jabatan, tapi juga soal kepercayaan dan nama baik keluarga,” ujar Ansyar saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (30/1/2026).
Ia menilai, persepsi publik terkait hubungan keluarga dengan kepala daerah adalah hal yang wajar. Namun menurutnya, jawaban atas isu tersebut hanya bisa dibuktikan melalui hasil kerja dan perubahan nyata, khususnya di sektor pendidikan Donggala yang selama ini masih menghadapi berbagai persoalan mendasar.
“Ini takdir Tuhan, saya tidak bisa menolak kalau saya ipar Bupati,” tutur kepala dinas yang baru sehari dilantik itu.
Ansyar juga menegaskan dirinya merupakan putra Donggala, dengan latar belakang keluarga yang memiliki ikatan kuat di daerah tersebut. Ia menyebut ayahnya berasal dari fam Pettalolo, sementara ibunya dari fam Lamakampali, salah satu keluarga besar yang dikenal di Donggala.
“Bapak saya fam Pettalolo, mama saya Lamakampali. Pak Asisten itu om saya,” ujar Ansyar, merujuk pada hubungan kekeluargaan dengan Pak Yusuf Lamakampali, yang selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh birokrasi di daerah.
Meski memiliki akar keluarga kuat di Donggala, Ansyar menjelaskan sebagian besar proses hidup dan kariernya justru ditempuh di luar daerah sejak usia muda. Ia kemudian kembali ke Donggala dengan membawa pengalaman panjang dari luar sebagai bentuk pengabdian kepada daerah asal keluarganya.
Sebelum kembali ke Donggala, Ansyar menghabiskan perjalanan panjang karier birokrasi di Pemerintah Kota Palu. Ia memulai dari level paling bawah sebagai staf kelurahan, kemudian menapaki jenjang sebagai kepala seksi hingga dipercaya memimpin wilayah strategis sebagai camat di kawasan pesisir dan pusat kota. Kariernya berlanjut di lingkup Sekretariat Daerah Kota Palu, dari kepala bagian hingga asisten, serta memiliki rekam jejak panjang di bidang pendidikan, pemuda, dan olahraga di tingkat kota.
Ia mengaku meninggalkan zona nyaman di Palu untuk kembali ke Donggala sebagai bentuk pengabdian, dengan membawa pengalaman birokrasi dan standar kerja dari luar daerah.
Ansyar mengungkapkan, kondisi Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan Donggala yang masih berada di zona merah menjadi tantangan utama yang harus segera ditangani. Ia menegaskan tidak ingin berlindung di balik kedekatan keluarga, melainkan menjadikannya sebagai dorongan untuk mempercepat perbaikan.
“Justru karena saya punya hubungan keluarga, standar kerja saya harus dua kali lipat. Saya tidak datang untuk zona nyaman,” tegasnya.
Ansyar memastikan siap dievaluasi secara terbuka oleh publik dan pimpinan daerah. Ia menegaskan, kepercayaan yang diberikan kepadanya akan dijawab dengan kerja nyata dan perubahan terukur di sektor pendidikan Donggala. BIM