– Direktur RSUD Undata Palu, dr. Jumriani, M.H., melaporkan situasi penanganan pascagempa di rumah sakit kini mulai terkendali, dengan menyisakan satu orang pasien yang masih bertahan di tenda darurat luar ruangan. Sebelumnya, kepanikan sempat membuat pihak rumah sakit mengevakuasi sekitar 20 pasien ke tenda bantuan akibat guncangan .

​Laporan perkembangan terkini tersebut disampaikan langsung oleh dr. Jumriani dalam konferensi pers yang dilaksanakan dan difasilitasi oleh Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik (DKIPS) Provinsi Sulawesi Tengah secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting pada Senin (22/6/2026).

​”Laporan terakhir yang kami terima ada 6 orang pasien pascagempa, dan hari ini data tersebut sudah kami laporkan secara resmi ke pihak BPBD Provinsi Sulawesi Tengah,” ujar dr. Jumriani membeberkan data terkini rumah sakit.

​Mengenai situasi kedaruratan di lapangan, dr. Jumriani menyampaikan bahwa gelombang kepanikan saat gempa sempat membuat sekitar 20 pasien yang berada di lantai 3 dan lantai 4 dievakuasi turun ke area halaman. Warga dan pasien sempat dirawat di beberapa tenda darurat bantuan dari BPBD, Dinsos, serta TNI.

​Namun berdasarkan laporan terbaru hari ini, situasi pelayanan perlahan mulai kembali normal ke dalam gedung, sehingga penumpukan pasien di luar ruangan sudah terurai.

​”Sekrabg pasien yang berada di tenda luar itu tinggal 1 orang saja. Kemarin memang hampir semua pasien di lantai 3 dan lantai 4 diturunkan ke tenda. Saat ini kami total menyiagakan 4 tenda darurat, yaitu 3 tenda bantuan sinergi BPBD bersama TNI, dan 1 tenda dari Dinas Sosial,” jelasnya.

​Sebagai langkah antisipasi lanjutan demi menjaga keselamatan pasien dari potensi gempa susulan, dr. Jumriani melaporkan bahwa manajemen RSUD Undata untuk sementara waktu mengosongkan seluruh ruang perawatan di lantai atas (lantai 3 dan lantai 4), termasuk menutup sementara hunian kamar VIP di lantai 4.

​Langkah taktis ini terpaksa diambil lantaran fasilitas tangga darurat gedung rumah sakit belum memiliki ramp (jalur bidang miring), sehingga sangat berisiko dan menyulitkan petugas jika harus mengevakuasi pasien secara vertikal tanpa menggunakan lift saat bencana terjadi.

​”Seluruh kebijakan pembatasan ini, termasuk pengosongan ruangan lantai atas dan pembatasan pasien khusus jantung non-darurat, akan terus kami berlakukan hingga status tanggap bencana ini resmi dicabut oleh Bapak Gubernur. Fokus kami saat ini adalah memastikan keselamatan pasien menjadi yang utama,” pungkas dr. Jumriani. BIM