DONGGALA – Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah, Diah Agustiningsih, menegaskan komitmennya untuk membawa kain tenun Donggala menembus pasar global lewat ajang Festival Buya Subi 2026. Berkolaborasi dengan 21 desainer internasional, langkah ini diambil untuk memastikan warisan budaya lokal tersebut tidak hanya lestari, tetapi juga diminati oleh pasar dunia internasional seperti Australia.

Hal tersebut disampaikannya dalam momentum Festival Buya Subi yang digelar di Pantai Karampuana, Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Selasa (7/7/2026).​

“Pelestarian tenun Buya Subi bukan hanya urusan pariwisata, tetapi juga menjadi tanggung jawab pemerintah daerah bersama OPD terkait agar warisan budaya ini tetap terpelihara dan tidak punah,” kata Diah.​

​Guna merealisasikan hal itu, Diah menyatakan bahwa Dinas Pariwisata Sulteng berkomitmen penuh untuk terus memperkenalkan kain khas Donggala tersebut ke kancah global. Langkah strategis yang diambil adalah dengan gencar mengikutsertakan tenun Buya Subi ke dalam berbagai ajang promosi, baik di tingkat nasional maupun internasional.​

“Kami akan terus mengangkat tenun ini melalui berbagai event, baik fashion show maupun promosi produk turunannya, sehingga tenun Buya Subi tetap diminati pasar,” ujarnya.​

​Diah juga berharap pergelaran akbar ini tidak sekadar menjadi acara seremonial tahunan. Ia menargetkan festival ini mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata dan berkelanjutan bagi kesejahteraan para perajin tenun lokal.​

​Festival Buya Subi 2026 sendiri berlangsung semarak dengan menghadirkan 21 desainer internasional. Sebanyak 70 busana bermotif kontemporer hasil kreasi para perancang busana dunia dipamerkan dalam ajang ini, di mana seluruh materialnya memanfaatkan kain tenun asli Donggala agar sesuai dengan tren pasar global.​

​Keterlibatan para desainer asing ini rupanya membawa angin segar bagi industri kreatif lokal. Diah membeberkan bahwa kerja sama ini memicu efek domino yang positif, karena para desainer mulai memesan kain tenun secara berkelanjutan dari para perajin di Sulawesi Tengah untuk lini busana mereka berikutnya.​

​”Mereka tidak hanya menampilkan karya dalam festival ini, tetapi juga terus memesan kain tenun dari para penenun di Sulawesi Tengah untuk koleksi berikutnya,” jelasnya.​

​Adapun pasokan kain yang diperagakan dalam festival tersebut diproduksi langsung dari berbagai sentra kerajinan tenun andalan di Donggala. Beberapa wilayah penyumbang kain di antaranya adalah Desa Towale, Limboro, Kola-Kola, Wani, dan Salubomba.​

​Menariknya, aktivitas festival tidak hanya berfokus pada pameran busana siap pakai. Para tamu dan partisipan internasional juga diajak untuk menyelami proses pembuatan kain tradisional tersebut secara langsung, Jumat (10/7/2026). Mereka diperkenalkan pada seluruh tahapan produksi, mulai dari proses seleksi warna benang hingga teknik merancang motif sesuai preferensi masing-masing.​

​Antusiasme kegiatan semakin memuncak saat sebanyak 18 model yang tampil dalam pergelaran busana ikut turun langsung untuk belajar menenun Buya Subi.​

Dengan penuh ketelatenan, para perajin lokal di lokasi festival membimbing para model melewati setiap tahapan menenun tradisional. Mereka diajarkan cara memasukkan benang pakan menggunakan teropong kayu, menghentakkan sisir tenun (suri) untuk merapatkan jalinan benang, teknik mengikat motif, hingga proses menenun helai demi helai kain yang seluruhnya masih dilakukan secara manual.​

Lebih lanjut, Diah mengungkapkan bahwa Australia kini menjelma sebagai salah satu pasar potensial dengan angka permintaan tenun Buya Subi yang sangat tinggi.​

​Koleksi kain tenun hasil kreasi perajin Donggala ini bahkan dijadwalkan akan kembali unjuk gigi dalam ajang peragaan busana internasional di Perth, Australia, pada Oktober 2026 mendatang.​

​”Permintaan dari Australia cukup besar. Setelah para desainer menerima kain dari Sulawesi Tengah, mereka kembali melakukan pemesanan untuk koleksi berikutnya,” katanya.​

Penyelenggaraan festival ini sukses terlaksana atas kolaborasi apik antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Eco Fashion Week Australia (EFWA), Pemerintah Kabupaten Donggala, Pemerintah Desa Towale, serta Dekranasda Provinsi Sulawesi Tengah. BIM