DONGGALA – Anak sekolah dasar di Dusun Bontopangi, Desa Tonggolobibi, Kecamatan Sojol, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, terpaksa menyeberangi sungai setiap pagi menggunakan rakit untuk bisa pergi ke sekolah.
Kondisi ini terekam dalam video dan foto yang diunggah oleh Sukardi Zazg melalui akun media sosial Facebook. Dalam rekaman tersebut, terlihat 16 anak berseragam sekolah dasar menyeberangi sungai dengan rakit, dibantu seorang dewasa.
Sukardi menjelaskan bahwa penyeberangan ini terpaksa dilakukan karena jembatan gantung penghubung antar dusun putus akibat banjir yang melanda wilayah tersebut pada Desember 2025. Akibatnya, beberapa siswa tidak dapat hadir ke sekolah saat air sungai naik atau terjadi banjir.
Kepala Desa Tonggolobibi, M. Saleh, membenarkan kondisi tersebut. Ia menjelaskan, jembatan gantung yang menghubungkan Dusun Bontopangi dan Dusun Silobo menuju SD di Dusun Lantapan rusak saat banjir, sementara dua akses lain seperti tanggul bendungan dan saluran irigasi telah diperbaiki.
“Untuk jembatan gantung, kami sudah mengajukan permohonan kebencanaan ke tingkat provinsi karena anggarannya cukup besar,” ujar M. Saleh, Rabu (11/2/2026).
Akibat putusnya jembatan, sebagian siswa kelas satu memilih pindah ke sekolah terdekat, sedangkan siswa kelas atas seperti kelas lima dan enam tetap harus menyeberang sungai. Kepala desa menegaskan pembangunan jembatan darurat sulit dilakukan karena sungai lebar, dalam, dan terdapat buaya di lokasi.
Selain rakit, tersedia jalur alternatif memutar antar dusun. Namun jalur ini lebih jauh dan memakan waktu sehingga tidak semua orang tua dapat mengantar anaknya.
“Jalan putar bisa, tapi memakan waktu dan tidak semua orang tua sempat. Jadi ada yang memilih menyeberang sungai,” kata Saleh.
Penggunaan rakit sudah dilakukan sejak pertengahan Januari 2026, setelah kegiatan belajar mengajar kembali normal pasca-libur sekolah.
“Kami berharap pemerintah kabupaten segera membangun kembali jembatan gantung agar akses pendidikan dan keselamatan anak-anak terjamin,” pungkasnya. BIM