Oleh: Ikra, Anggota Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Menui Kepulauan (PPMMK) Palu
Di balik birunya laut dan indahnya pulau-pulau kecil di Kecamatan Menui Kepulauan, tersisa satu pertanyaan besar yang sulit diabaikan: mengapa potensi wisata yang begitu besar belum mampu menarik banyak pengunjung? Padahal, pesona alamnya tidak kalah dengan destinasi populer lainnya di Sulawesi Tengah.
Beberapa tahun terakhir, daerah ini sebenarnya mulai dikenal luas. Hal ini didukung oleh terpilihnya putra-putri daerah sebagai Duta Pariwisata Kabupaten Morowali pada tahun 2022 dan 2023. Melalui berbagai ajang promosi dan media sosial, mereka gencar memperkenalkan keindahan alam Menui Kepulauan ke ruang publik yang lebih luas.
Namun kenyataannya, setelah semua upaya promosi itu berjalan, kondisi di lapangan tidak banyak berubah. Wisatawan yang datang masih sangat minim; pantai tetap indah dan pulau tetap mempesona, tetapi suasana tetap sepi pengunjung. Fenomena ini memicu pertanyaan kritis: apa yang sebenarnya salah dengan pengembangan wisata kita?
Jika dilihat dari perspektif geografi, khususnya konsep Interaksi Desa-Kota, sebuah wilayah dapat berkembang jika terjadi aliran yang lancar antara desa dan kota, baik berupa orang, informasi, maupun akses. Dalam teori ini, terdapat tiga faktor krusial: komplementaritas, transferabilitas, dan tidak adanya hambatan wilayah lain.
Ikra, mahasiswa Geografi Universitas Tadulako sekaligus anggota Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Menui Kepulauan (IPPMMK) Palu, menilai masalah utama Menui Kepulauan justru terlihat jelas pada aspek transferabilitas atau kemudahan akses. Indahnya destinasi wisata tidak akan cukup jika wisatawan sulit untuk mencapainya. Minimnya transportasi menjadi penghambat utama yang membuat interaksi antara kota sebagai sumber wisatawan dan desa sebagai tujuan wisata tidak berjalan optimal.
Di sisi lain, promosi melalui media sosial dan peran duta pariwisata memang sudah membuka “pintu informasi”. Namun tanpa dukungan akses yang memadai, informasi itu seolah berhenti di layar digital tanpa berubah menjadi kunjungan nyata. Hal ini diperparah oleh perhatian dan pengelolaan dari pemerintah daerah yang masih perlu diperkuat, terutama terkait keterbatasan fasilitas dan optimalisasi dampak ekonomi bagi masyarakat.
Padahal, secara potensi, Menui Kepulauan memiliki kekayaan wisata bahari yang sangat besar dan masih alami. Persoalannya bukan pada “ada atau tidaknya potensi”, tetapi pada bagaimana potensi itu dihubungkan dengan dunia luar. Konektivitas fisik menjadi kunci yang selama ini terabaikan.
Pada akhirnya, Menui Kepulauan bukanlah cerita tentang kegagalan pariwisata, melainkan tentang potensi besar yang masih terhambat oleh akses dan tata kelola. Jika konektivitas diperbaiki dan perhatian terhadap sektor wisata ditingkatkan, wilayah ini memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu destinasi unggulan di Sulawesi Tengah.***