DONGGALA – Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Donggala, Ansyar Sutiadi, menegaskan komitmennya membenahi kualitas pendidikan melalui langkah cepat (quick wins) hingga strategi jangka menengah, dengan fokus utama pada penuntasan Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan pemerataan tenaga pendidik.
Ansyar menyebutkan, seluruh kebijakan pendidikan Donggala akan disusun berbasis data Dapodik sebagai jantung perencanaan pendidikan nasional.
“Semua perencanaan kita itu berbasis Dapodik. Dari data ini kita akan mendapat banyak dukungan dari Kementerian Pendidikan, termasuk revitalisasi sekolah dan peningkatan kompetensi pendidik,” ujar Ansyar saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (30/1/2026).
Ia mengungkapkan, rapor pendidikan Donggala saat ini masih berada di angka 19 nasional, sehingga membutuhkan intervensi program yang tepat sasaran.
“Yang ingin saya lihat adalah di mana kelemahan standar pelayanan umum kita. Dari situ kita akan intervensi melalui program yang benar-benar kelihatan dampaknya,” katanya.
Salah satu langkah konkret yang segera dilakukan adalah redistribusi dan relokasi guru agar penempatan pendidik lebih proporsional dan dekat dengan domisili keluarga.
“Kita akan melakukan redistribusi dan relokasi guru-guru pendidik. Ada guru yang bertugas di Banawa, tapi tinggalnya di Pantai Barat, atau sebaliknya. Ini yang akan kita benahi,” jelasnya.
Menurut Ansyar, kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan fokus dan kinerja guru dalam proses belajar mengajar.
“Guru harus tenang dan fokus mengajar. Bagaimana dia bisa maksimal kalau pikirannya terbagi karena keluarga jauh? Maka kita tempatkan guru sedekat mungkin dengan keluarganya supaya kinerjanya lebih optimal,” tegasnya.
Ia menambahkan, relokasi guru akan dilakukan secara terukur dan berbasis kebutuhan sekolah, bukan sekadar pemindahan administratif.
“Penempatannya kita petakan dulu sesuai kebutuhan riil sekolah dan pemerataan guru. Bukan asal pindah, tapi berbasis data dan kebutuhan lapangan,” ujarnya.
Selain itu, Disdikpora juga akan melakukan asesmen kepala sekolah secara profesional untuk mengisi kekosongan jabatan kepala sekolah di sejumlah satuan pendidikan.
“Kepala sekolah itu menentukan arah sekolah sampai 80 bahkan 90 persen. Karena itu kita ingin mendapatkan kepala sekolah terbaik, tanpa unsur kedekatan atau relasi,” katanya.
Program digitalisasi pendidikan juga menjadi perhatian, termasuk penyediaan akses internet di wilayah terpencil dan pegunungan agar pemerataan layanan pendidikan benar-benar terasa.
Untuk guru yang bertugas di daerah terpencil, Disdikpora akan mengkaji pemberian insentif khusus sebagai bentuk penghargaan dan dukungan.
Dalam jangka menengah, Disdikpora Donggala juga menyiapkan pengembangan sekolah unggulan melalui revitalisasi sekolah yang sudah ada, serta membuka peluang kerja sama dengan sekolah unggulan nasional bagi siswa berprestasi.
Ansyar mengakui tantangan besar di awal masa jabatannya, namun memilih keluar dari zona nyaman demi memperbaiki sistem pendidikan. BIM